Perkembangan Provider dan Mobile Application

ABSTRAK

 

Saat ini dengan cepatnya perkembangan IT telah membuat proses dan strategis bisnis berubah

dengan cepat. Tidak ada lagi management perusahaan yang tidak peduli dengan persaingan

produk dari rival bisnisnya. Penggunaan perangkat IT sudah menjadi keharusan saat ini dengan dipengaruhi oleh berkembangnya mobile application di masyarakat. IT sudah dipandang sebagai salah satu senjata untuk bersaing di kompetisi global, kecenderungan

ini terlihat dari tidak digunakannya lagi IT sebagai pelengkap dari proses bisnis perusahaan,

namun IT dijadikan sebagai bagian dari proses bisnisnya.

Dahulu sangat sulit menyakinkan pimpinan perusahaan untuk menjadikan IT sebagai suatu solusi

yang dapat membantu visi-misi dan proses bisnis apalagi menyamakan strategi IT dengan visimisi dan strategi  bisnis perusahaan. Sejak era tahun 2000an disaat sudah banyak solusi yang

diberikan oleh vendor IT di dunia dengan konsep one stop solutions nya, muncul permasalahan

baru yaitu besarnya dana / anggaran yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan teknologinya sampai dengan pembiayaan maintenance yang dibutuhkan. Belum lagi dipusingkan dengan kurangnya skill SDM yang menguasai teknologi baru tersebut. Kecenderungan saat ini

teknologi semakin perkembang dengan cepat, perangkat keras / lunak muncul dengan versi

atau model terbaru, hal ini juga berdampak pada permasalahan teknis dan non teknis seharihari dilapangan semakin kompleks. Jangan sampai perangkat yang mahal dan terbaru tidak

dapat optimal karena permasalahan klasik dan teknis lainnya.

Solusi Sistem Enterprise seperti ERP dengan SAPnya telah menjadi solusi bagi perusahaan untuk

meningkatkan efisiensi dan keakuratan bisnis  dalam proses produk yang dihasilkan. Harapan

management setelah mengimplementasikan sistem integrasi enterprise ini dapat meningkat

seperti fungsi control, monitoring dan pengambilan keputusan.

Karena tuntutan kebutuhan akan informasi yang semakin cepat, tata kelola ICT dalam

manajemen di suatu perusahaan akan semakin kompleks  baik  dari  sisi  teknis  atau  non  teknis

lainnya. Tuntutan  ini memunculkan ”lahan bisnis” baru bagi para provider, munculnya solusi

outsourching yang mempercayakan sistem ICT  perusahaan dihandle dan dimaintenance oleh

pihak ketiga (vendor). Dahulu Model dianggap paling tepat untuk solusi perusahaan yang tidak

mempunyai dana lebih dalam implementasi IT dan tidak mempunyai divisi khusus IT /EDP.

Namun dalam perkembangan dilapangan provider ini mulai bergeser ke services content atau

pemain layanan data & Internet (ISP) mulai melirik pangsa pasar ini.

Era akhir tahun 90an dan awal tahun 200an, terdapat solusi yang ditawarkan pada vendor

perangkat lunak, Konsep ini dahulu dikenal dengan ASP (Application Service Provider), menurut

Kamus Komputer ASP ini merupakan suatu usaha  yang menawarkan akses berupa penggunaan

aplikasi perangkat lunak kepada pengguna individu maupun perkantoran melalui sarana

Internet. Pada dasarnya ASP adalah suatu Independent Software Vendor (ISV) atau ISP yang

memanfaatkan Internet sebagai sarana penyampaian sehingga program aplikasinya bisa berfungsi.

Perkembangan IT saat ini menuju  dengan konsep-kosenp social networkingnya, openess, share, colaborations, mobile, easy maintenance, one click, terdistribusi / tersebar,  scalability,

Concurency dan Transparan, Saat ini terdapat trend teknologi yang masih terus digali dalam

penelitian-penelitian para pakar IT di dunia, yaitu Cloud Computing. Akses data dari mana saja

dan menggunakan perangkat fixed atau mobile device menggunakan internet cloud sebagai

tempat menyimpan data, applications dan lainnya yang dapat dengan mudah mengambil data,

download applikasi dan berpindah  ke cloud  lainnya, hal ini memungkinkan agar dapat

memberikan layanan aplikasi secara mobile di masa depan. Trend ini akan memberikan banyak

keuntungan baik dari sisi pemberi layanan (provider) atau dari sisi user.

Trend saat ini adalah dapat memberikan berbagai macam layanan secara teristribusi dan

pararel secara remote dan dapat berjalan di berbagai device, dan teknologinya dapat dilihat

dari berbagai macam teknologi yang digunakan dari proses informasu yang dilakukan secara

otsourching sampai dengan penggunaan eksternal data center.  Cloud Computing merupakan

model yang memungkinkan dapat mendukung layanan yang disebut ”Everything-as-a-service”

(XaaS). Dengan demikian dapat mengintegrasikan virtualized  physical sources, virtualized

infrastructure, seperti juga sebaik virtualized middleware platform dan aplikasi bisnis yang

dibuat untuk pelanggan didalam cloud tersebut.

Ada beberapa keuntungan yang dapat dilihat dari perkembangan Cloud Computing ini, seperti

1. Lebih efisien karena menggunakan anggaran yang rendah untuk sumber daya

2. Membuat lebih eglity, dengan mudah dapat berorientasi pada profit dan perkembangan

yang cepat

3. Membuat operasional dan manajemen lebih mudah, dimungkinkan karena sistem

pribadi atau perusahaan yang terkoneksi dalam satu cloud dapat dimonitor dan diatur

dengan mudah

4. Menjadikan koloborasi yang terpecaya dan lebih ramping

5. Membantu dalam menekan biaya operasi biaya modal pada saat kita meningkatkan

reliability dan kritikal sistem informasi yang kita bangun.

 

Terdapat tiga komponen platform = computer desktop, mobile devices dan cloud, dengan

memperhatikan masalah kemudahan dan keamanan, dimungkinkan dapat dengan mudah para

user untuk pindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain dimana saja.

Grid computing muncul untuk menyatukan banyak CPU yang bekerja secara pararel untuk

menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu. Integrasi CPU ini bisa saja dilakukan dalam sebuah

network lokal atau internetworking yang tersebar di seluruh dunia.

Interkoneksi ini membentuk cel-cel yang saling  terintegrasi secara private atau public atau

kedua-duanya.

Operator Telekomunikasi, Informasi, Media dan Edutaintment (TIME)

Perusahaan Perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (“TELKOM”, ”Perseroan”, “Perusahaan”, atau “Kami”) merupakan Badan Usaha Milik Negara dan penyedia layanan telekomunikasi dan jaringan terbesar di Indonesia. TELKOM menyediakan layanan InfoComm, telepon kabel tidak bergerak (fixed wireline) dan telepon nirkabel tidak bergerak (fixed wireless), layangan telepon seluler, data dan internet, serta jaringan dan interkoneksi, baik secara langsung maupun melalui anak perusahaan.

Sebagai BUMN, Pemerintah Republik Indonesia merupakan pemegang saham mayoritas yang menguasai sebagian besar saham biasa Perusahaan sedangkan sisanya dimiliki oleh publik. Saham Perusahaan diperdagangkan diBursa Efek Indonesia (“BEI”), New York Stock Exchange (“NYSE”), London Stock Exchange (“LSE”) dan Tokyo Stock Exchange (tanpa listing).

Untuk menjawab tantangan yang terus berkembang di industri telekomunikasi dalam negeri maupun di tingkat global, kami bertekad melakukan transformasi secara fundamental dan menyeluruh di seluruh lini bisnis yang mencakup transformasi bisnis dan portofolio, transformasi infrastruktur dan sistem, transformasi organisasi dan sumber daya manusia serta transformasi budaya. Pelaksanaan transformasi ini dilakukan dalam rangka mendukung upaya diversifikasi bisnis TELKOM dari ketergantungan pada portofolio bisnis Legacyyang terkait dengan telekomunikasi, yakni layanan telepon tidak bergerak (Fixed), layanan telepon seluler (Mobile), dan Multimedia (FMM), menjadi portofolio TIME (Telecommunication, Information, Media and Edutainment). Konsistensi kami dalam berinovasi telah berhasil memposisikan Perusahaan sebagai salah satu perusahaan yang berdaya saing tinggi dan unggul dalam bisnis New Wave.

Komitmen untuk mendukung mobilitas dan konektivitas tanpa batas diyakini akan meningkatkan kepercayaan pelanggan ritel maupun korporasi terhadap kualitas, kecepatan, dan kehandalan layanan serta produk yang kami tawarkan. Hal itu terbukti dengan kontinuitas peningkatan di sisi jumlah pelanggan, yakni mencapai 120,5 juta pelanggan per 31 Desember 2010, atau meningkat sebesar 14,6%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8,3 juta pelanggan merupakan pelanggan telepon kabel tidak bergerak, 18,2 juta pelanggan telepon nirkabel tidak bergerak, dan 94,0 juta pelanggan telepon seluler.

SEJARAH

GPRS (singkatan bahasa InggrisGeneral Packet Radio ServiceGPRS) adalah suatu teknologi yang memungkinkan pengiriman dan penerimaan data lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan teknologi Circuit Switch Data atau CSD. Penggabungan layanan telepon seluler dengan GPRS (General Packet Radio Service) menghasilkan generasi baru yang disebut 2.5G. Sistem GPRS dapat digunakan untuk transfer data (dalam bentuk paket data) yang berkaitan dengan e-mail, data gambar (MMS), Wireless Application Protocol (WAP), dan World Wide Web (WWW).

Kemunculan GPRS didahului dengan penemuan telepon genggam generasi 1G dan 2G yang kemudian mencetuskan ide akan penemuan GPRS. Penemuan GPRS terus berkembang hingga kemunculan generasi 3G, 3,5G, dan 4G. Perkembangan teknologi komunikasi ini disebabkan oleh keinginan untuk selalu memperbaiki kinerja, kemampuan dan efisiensi dari teknologi generasi sebelumnya. 1. Generasi 1G: analog, kecepatan rendah (low-speed), cukup untuk suara. Contoh: NMT (Nordic Mobile Telephone) dan AMPS (Analog Mobile Phone System). 2. Generasi 2G: digital, kecepatan rendah – menengah. Contoh: GSM dan CDMA2000 1xRTT. 2G merupakan jaringan telekomunikasi seluler yang diluncurkan secara komersial pada GSM di Finlandia oleh Radiolinja pada tahum 1991.

  • Time Division Multiple Access (TDMA): membagi frekuensi radio berdasarkan satuan waktu. Teknologi ini memungkinkan untuk melayani beberapa panggilan secara sekaligus melakukan pengulangan-pengulangan dalam irisan waktu tertentu yang terdapat dalam satu channel radio.
  • Personal Digital Cellular: Cara kerja mirip dengan TDMA, PDC lebih banyak digunakan di negara Jepang.
  • iDEN: teknologi berbasis CDMA dengan arsitektur GSM memungkinkan untuk membuka aplikasi Private Mobile Radio dan Push to Talk.
  • Digital European Cordless Telephone: teknologi ini berbasis TDMA digunakan untuk keperluan bisnis dalam skala menengah ke atas.
  • Personal Handphone Secvice: teknologi ini tidak jauh berbeda dengan DECT, kecepatan transmisinya jauh lebih cepat dan digunakan dalam lingkungan yang lebih luas.
  • IS-CDMA: Teknologi ini meningkatkan kapasitas sesi penelponan dengan menggunakan metode pengkodean yang unik untuk setiap kanal frekuensi yang digunakan.
  • GSM: teknologi GSM menggunakan sistem TDMA dengan alokasi kurang lebih delapan di dalam satu channel frekuensi sebesar 200kHz per satuan waktu. Kelebihan dari GSM ini adalah interface yang tinggi bagi para provider dan penggunanya.

3. Generasi 3G : digital, kecepatan tinggi (high-speed), untuk pita lebar (broadband). Contoh: W-CDMA (atau dikenal juga dengan UMTS) dan CDMA2000 1xEV-DO.

4. Generasi 3,5G: memungkinkan akses internet yang lebih cepat. Contoh: HSDPA.

5. Generasi 4G : merupakan Long Term Evolution (LTE) yakni, evolusi dari teknologi 3GPP dan Ultra Mobile Broadband (UMB) berasal dari 3GPP2, sehingga sulit untuk dibedakan dengan jelas antara teknologi 3G dan 4 G. Contoh: Wimax Mobile Standard.

GPRS merupakan sistem transmisi berbasis paket untuk GSM yang menggunakan prinsip ‘tunnelling’. Ia menawarkan laju data yang lebih tinggi. Laju datanya secara kasar sampai 160 kbps dibandingkan dengan 9,6 kbps yang dapat disediakan oleh rangkaian tersakelar GSM. Kanal-kanal radio ganda dapat dialokasikan bagi seorang pengguna dan kanal yang sama dapat pula digunakan dengan berbagi antar pengguna sehingga menjadi sangat efisien. Dari segi biaya, harga mengacu pada volume penggunaan. Penggunanya ditarik biaya dalam kaitannya dengan banyaknya byte yang dikirim atau diterima, tanpa memperdulikan panggilan, dengan demikian dimungkinkan GPRS akan menjadi lebih cenderung dipilih oleh pelanggan untuk mengaksesnya daripada layanan-layanan IP.

GPRS merupakan teknologi baru yang memungkinkan para operator jaringan komunikasi bergerak menawarkan layanan data dengan laju bit yang lebih tinggi dengan tarif rendah ,sehingga membuat layanan data menjadi menarik bagi pasar massal. Para operator jaringan komunikasi bergerak di luar negeri kini melihat GPRS sebagai kunci untuk mengembangkan pasar komunikasi bergerak menjadi pesaing baru di lahan yang pernah menjadi milik jaringan kabel, yakni layanan internet. Kondisi ini dimungkinkan karena ledakan penggunaan internet melalui jaringan kabel (telepon) dapat pula dilakukan melalui jaringan bergerak. Layanan bergerak yang kini sukses di pasar adalah, laporan cuaca, pemesanan makanan, berita olah raga sampai ke berita-berita penting harian. Dari perkembangan tersebut, dapat dirasakan dampaknya pada kemunculan berbeagai provider HP yang bersaing menawarkan tarif GPRS yang semakin terjangkau.

Dalam teorinya GPRS menjanjikan kecepatan mulai dari 56 kbps sampai 115 kbps, sehingga memungkinkan akses internet, pengiriman data multimedia ke komputer,”notebook” dan ”handheld computer”. Namun, dalam implementasinya, hal tersebut sangat tergantung faktor-faktor sebagai berikut:

  • Konfigurasi dan alokasi time slot pada level BTS
  • Software yang dipergunakan
  • Dukungan fitur dan aplikasi ponsel yang digunakan

Ini menjelaskan mengapa pada saat-saat tertentu dan di lokasi tertentu akses GPRS terasa lambat, bahkan lebih lambat dari akses CSD yang memiliki kecepatan 9,6 kbps.

 

Perbedaan GPRS dan WAP

WAP merupakan kependekan dari Wireless Application Protocol adalah teknologi seperti WWW dan merupakan protokol untuk mengakses internet melalui HP, sedangkan GPRS (General Packet Radio Service) adalah teknologi koneksi yang digunakan oleh HP tersebut menuju jalur internet. Misalnya, kita menggunakan broadband pada PC yang terkoneksi ke Speedy.

KOMPONEN UTAMA

Komponen-komponen utama jaringan GPRS adalah:

  • GGSN (Gateway GPRS Support Node): gerbang penghubung jaringan GPRS ke jaringan internet. Fungsi dari komponen ini adalah sebagai interface ke PDN (Public Data Network), information routingnetwork screeninguser screeningaddress mapping.
  • SGSN (Serving GPRS Support Node): gerbang penghubung jaringan BSS/BTS ke jaringan GPRS. Komponen ini berfungsi untuk mengantarkan paket data ke MS,update pelanggan ke HLR, registrasi pelanggan baru.
  • PCU : komponen di level BSS yang menghubungkan terminal ke jaringan GPRS

CARA KERJA

SGSN bertugas: 1. Mengirim paket ke Mobile Station (MS) dalam satu area 2. Mengirim sejumlah pertanyaan ke HLR untuk memperoleh profile data pelanggan GPRS (management mobility) 3. Mendeteksi MS-GPRS yang baru dalam suatu area servis yang menjadi tanggung jawabnya (location management) 4. SGSN dihubungkan ke BSS pada GSM dengan koneksi frame relay melalui PCU (Packet Control Unit) di dalam BSC.

GGSN bertugas: 1. Sebagai interface ke jaringan IP external seperti : public internet atau mobile service provider 2. Memutakhirkan informasi routing dari PDU ( Protokol Data Units ) ke SGSN.

GPRS menggunakan sistem komunikasi packet switch sebagai cara untuk mentransmisikan datanya. Packet switch adalah sebuah sistem di mana data yang akan ditransmisikan dibagi menjadi bagian-bagian kecil (paket) lalu ditransmisikan dan diubah kembali menjadi data semula. Sistem ini dapat mentransmisikan ribuan bahkan jutaan paket per detik. Transmisi dilakukan melalui PLMN (Public Land Mobile Network) dengan menggunakan IP seperti 08063464xxx. Karena memungkinkan untuk pemakaian kanal transmisi secara bersamaan oleh pengguna lain maka biaya akses GPRS, secara teori, lebih murah daripada biaya akses CSD. GPRS didesain untuk menyediakan layanan transfer packet data pada jaringan GSM dengan kecepatan yang lebih baik dari GSM. Kecepatan yang lebih baik ini didapat dengan menggunakancoding scheme (CS) yang berbeda dari GSM.

CARA PEMASANGAN

Untuk dapat menggunakan GPRS (khususnya pada handphone yang mendukung) diperlukan setting terlebih dahulu. Cara setting GPRS terdapat di masing-masing operator. Setting GPRS di HP dapat dilakukan dengan otomatis dan manual. Setting GPRS secara otomatis dapat dilakukan dengan mengirimkan SMS ke provider yang anda miliki, tarifnya bervariasi antar provider, dan format pesan yang dikirimkan juga berbeda-beda tergantung dari setiap provider. Sementara, untuk setting GPRS secara manual HP cukup mengikuti petunjuk setting default yang terdapat di HP, tanpa perlu mengubah-ubahnya lagi. Jika ingin memakai HP untuk koneksi Internet dari PC, anda hanya perlu untuk mengeset GPRS saja, tanpa perlu mengeset WAP ataupun MMS. Tiga hal yang harus diketahui adalah access point name, username, dan password. Selanjutnya, untuk menggunakan GPRS di komputer, dapat menyambungkan handphone yang telah tersetting GPRS itu dengan komputer yang telah tersetting. Cukup memasukkan angka dialling misalnya 08096470 dan klik tombol dial, maka permintaan kita akan segara disambungkan. Saat ini, GPRS di Indonesia kalah bersaing dengan teknologi 2,75G, 3G, 3,5G, dan 4G yang memang pengembangan lebih lanjut dari GPRS.

PERKEMBANGAN GPRS

Generasi 2,75G

Generasi 2,75G dikenal dengan generasi EDGE. EDGE diperkenalkan oleh AT&T di Amerika Serikat pada tahun 2003. Secara teknis sebetulnya EDGE telah memenuhi standar 3G yang ditetapkan oleh ITU. Teknologi ini dapat mengirimkan data lebih cepat dari 2.5G.

Generasi 3G

Teknologi 3G terbagi menjadi GSM dan CDMATeknologi 3G sering disebut dengan mobile broadband karena keunggulannya sebagai modem untuk internet yang dapat dibawa ke mana saja. Perkembangan teknologi 3G secara komersial dimulai pada Oktober2001, ketika NTTDoCoMo dari Jepang dengan teknologi W-CDMA menjual produknya untuk pertama kali secara terbatas. Kemudian disusul oleh SK Telecom, Korea Selatan pada tahun 2002 dengan teknologi 1xEV-DO, diikuti oleh KTF dari Korea Selatan dengan teknologi EV-DO. Keberhasilan layanan 3 G di kedua negara ini disebabkan oleh faktor dukungan pemerintah. Pemerintah Jepang tidak mengenakan biaya di muka (upfront fee) atas penggunaan lisensi spektrum 3G atas operator-operator di Jepang (ada tiga operator: NTT Docomo, KDDI dan Vodafone). Sedangkan pemerintah Korea Selatan, walau pun mengenakan biaya di muka, memberikan insentif dan bantuan dalam pengembangan nirkabel pita lebar (Korea Selatan adalah negara yang menggunakan Cisco Gigabit Switch Router terbanyak di dunia) sebagai bagian dalam strategi pengembangan infrastruktur.

Di Eropa, dipelopori oleh British Telecom dan Telenor dengan teknologi W-CDMA pada Desember 2001. Di Amerika Serika jaringan 3G dipelopori oleh Monet Mobile Networks dengan teknologi CDMA20001xEV-DO, diikuti oleh Verizon Wireless pada tahun 2003. Di Australia jaringan 3G komersial pertama kali diperkenalkan oleh Hutchinson Telecommunication dengan nama Three pada bulan maret 2003. Pada bulan Desember 2007 jaringan 3G telah dioperasikan di 40 negara dan 154 jaringan HSDPA telah beroperasi di 71 negara, dan 200 juta pelanggan telah terhubung melalui jaringan 3G.

Perkembangan teknologi 3G mengharuskan pengaturan spektrum secara global, melalui penyediaan pita (band) yang lebih luas. Adanya teknologi 3G sebagai hasil pengembangan teknologi generasi kedua, yaitu hasil perkembangan evolusioner, yang masih menggunakan perangkat jaringan 2G yang diperluas dan hasil perkembanganrevolusioner yang memerlukan jaringan dan alokasi frekuensi yang sama sekali baru. Secara evolusioner, IMT-2000 telah menerapkan dua macam evolusi ke 3G, yakni dari 2G CDMA standard IS-95 (cdmaOne) ke IMT-SC (cdma2000) dan dari 2G TDMA standars (GSM/IS-136) ke IMT-SC (EDGE). Secara revolusioner, IMT-2000 membangun alokasi spektrum yang baru terkait tuntutan saluran yang makin luas.

Salah Paham Akan 3G

Ada beberapa pemahaman yang salah tentang 3G dalam masyarakat umum:

  1. Layanan 3G tidak bisa tanpa ada cakupan layanan 3G dari operator. Hanya membeli sebuah handset 3G, tidak berarti bahwa layanan 3G dapat dinikmati. Handset dapat secara otomatis pindah ke jaringan 3G bila, pelanggan tidak menerima cakupan 3G. Sehingga bila seseorang sedang bergerak dan menggunakan layanan video call, kemudian terpaksa berpindah ke jaringan 2G, maka layanan video call akan putus.
  2. Layanan 3G berada pada frekuensi 1.900 Mhz. ITU-T memang mendefinisikan layanan 3G untuk GSM pada frekuensi 1.900 Mhz dengan lebar pita sebesar 60 Mhz. Namun, pada umumnya, teknologi berbasis CDMA2000 menggunakan spektrum di frekuensi 800 Mhz, atau yang biasa dikenal sebagai spektrum PCS (Personal Communication System).
  3. Kelebihan: Perkembangan teknologi pita lebar bergerak menguntungkan baik untuk dunia bisnis, pemerintahan maupun perorangan, karena semakin baru teknologinya semakin besar data yang dapat dikirimkan dalam waktu yang lebih singkat. Jenis data yang dapat dikirimkan juga menjadi lebih beragam, tidak hanya huruf dan angka, tetapi juga gambar diam, gambar bergerak, dan suara.
  4. Kekurangan: Disamping harganya lebih mahal, perlu diperhatikan aspek keamanannya dan aspek etika di dalam penggunaan teknologi yang baru. Peran ITU sangat penting di sini.Penyedia jasa layanan pita lebar bergerak harus membangun jaringan baru yang memerlukan investasi yang sangat besar.

Kelebihan dan kekurangan 3G

Generasi 3,5G

Generasi 3,5G merupakan pengembangan dari 3G yang memungkinkan pengiriman data lebih cepat. Perbandingan antara 3G dan 3,5G terlihat jelas pada kecepatan transmisinya. Pada 3G, kecepatan transmisi maksimal 384kbps, sementara pada 3,5G kecepatan transmisi maksimal mencapai 3,6Mbps. Generasi 3G dan 3,5G mendukung layanan video call yang memungkinkan penelpon dan penerima saling bertatap muka.

Generasi 4G

Belakangan ini industri nirkabel mulai mengembangkan teknologi 4G, meskipun sebenarnya teknologi 4G ini seperti Long Term Evolution (LTE) hanya merupakan evolusi dari teknologi 3GPP dan Ultra Mobile Broadband (UMB) berasal dari 3GPP2, sehingga sulit untuk membedakan dengan jelas teknologi 3G dan 4 G. Salah satu teknolgoi 4G yaituWiMax mobile standard telah diterima oleh ITU untuk ditambahkan pada IMT-2000, sehingga teknologi baru ini masih digolongkan ke dalam keluarga 3G. International Telecommunication Union (ITU) sedang mempelajari kemampuan mobile broadband yang disebut IMT-advanced yang disebut teknologi generasi keempat (4G). Diharapkan ITU segera melaksanakan penggunaan IMT-2000 (3G) dan IMT-Advanced (4G), konsekuensinya ITU harus menambah pita baik dibawah 1 GHz maupun diatas 2GHz.

Mengenal Teknologi 4G LTE (Long Term Evolution) – Part1

Kualitas layanan berbasis Internet Protocol (IP) melalui telepon seluler sangat ditentukan besarnya bandwidth. Setelah teknologi 3G yang sanggup memberikan akses hingga 2,4 Mbps, ke depan sudah dipersiapkan infrastruktur long term evolution (LTE) yang sanggup melakukan transfer hingga ratusan Mbps.

LTE didefinisikan dalam standar 3GPP (Third Generation Partnership Project) Release 8 dan juga merupakan evolusi teknologi 1xEV-DO sebagai bagian dari roadmap standar 3GPP2. Teknologi ini diklaim dirancang untuk menyediakan efisiensi spektrum yang lebih baik, peningkatan kapasitas radio, latency dan biaya operasional yang rendah bagi operator serta layanan mobile broadband kualitas tinggi untuk para pengguna.

Perubahan siginifikan dibandingkan standar sebelumnya meliputi 3 hal utama, yaitu air interface, jaringan radio serta jaringan core. Di masa mendatang, pengguna dijanjikan akan dapat melakukan download dan upload video high definition dan konten-konten media lainnya, mengakses e-mail dengan attachment besar serta bergabung dalam video conference dimanapun dan kapanpun.

LTE juga secara dramatis menambah kemampuan jaringan untuk mengoperasikan fitur Multimedia Broadcast Multicast Service (MBMS), bagian dari 3GPP Release 6, dimana kemampuan yang ditawarkan dapat sebanding dengan DVB-H dan WiMAX .LTE dapat beroperasi pada salah satu pita spektrum seluler yang telah dialokasikan yang termasuk dalam standar IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900, 2100 MHz) maupun pada pita spektrum yang baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

Kondisi yang ada di masyarakat saat ini telah banyak berubah dibandingkan dengan sebelumnya, dimana paket switch data semakin dominan, VoIP menjadi metode yang efisien untuk mentransfer data suara. Tak hanya itu, data semakin bertambah dari waktu ke waktu dan kebutuhan user untuk berkomunikasi semakin meningkat dan banyak. Semuanya itu dapat diatasi oleh LTE.

Teknologi LTE sendiri merupakan pengembangan teknologi dari aplikasi GSM dan CDMA yang sudah ada di Indonesia saat ini. Bila pada GSM (2G), berevolusi menjadi GPRS (2,5G), yang dilanjutkan dengan EDGE, serta EDGE Evolved. Maka di WCDMA (3G), berevolusi menjadi HSPA (3,5G) dan HSPA+, maka solusi berikutnya adalah penggunaan LTE yang mempunyai layanan kapasitas gigabytes di atas semuanya.

Ke depan, target peningkatan kualitas LTE adalah mempunyai rataan data tinggi seperti downlink lebih besar dari 100 Mbps, uplink lebih dari 50 Mbps, serta cell-edge data rates 2 sampai 3 kali HSPA Relay 6. Itu masih ditambah dengan tingkat delay LTE yang rendah, karena user plane RTT lebih kecil dari 10 ms, dan channel set-up lebih rendah dari 100 ms. LTE mempunyai kualitas bagus dalam melakukan service penyiaran, dengan biaya yang lebih rendah dan efektif. Dengan LTE, memungkinkan para user maupun subscribers menikmati beragam media (multimedia), seperti musik, internet, film, sampai game dalam satu peralatan yang saling terhubung menjadi satu. Dan paling penting berbiaya rendah.

Kecepatan menjadi raja di zaman teknologi tinggi seperti sekarang. Datangnya teknologi Long Term Evolution (LTE) menjadi angin segar untuk para konsumen yang mengagungkan kecepatan.

LTE didefinisikan dalam standar 3GPP (Third Generation Partnership Project) Release 8 dan juga merupakan evolusi teknologi 1xEV-DO sebagai bagian dari roadmap standar 3GPP2. Dengan spesifikasi seperti itu, LTE dirancang untuk menyediakan efisiensi spektrum yang lebih baik, peningkatan kapasitas radio, biaya operasional yang lebih murah bagi operator, serta layanan mobile broadband kualitas tinggi untuk pengguna.

Perubahan paling mendasar dari LTE dibanding standar sebelumnya terdiri dari 3 hal utama yaitu air interface, jaringan radio, dan jaringan core. Di waktu mendatang, melakukan pengunduhan atau pengunggahan video berdefinisi tinggi, mengakses e-mail dengan attachment yang besar, mengajak teman bermain game favorit di manapun tempatnya, menjadi hal yang sangat mungkin dengan dukungan LTE.

Untuk masalah pita spektrum yang sangat berpengaruh dengan kinerja jaringan, LTE dapat beroperasi pada standar IMT-2000 (450, 850, 1800, 1900, 2100 MHz) maupun pada pita spektrum baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

Alokasi pita lebar yang sangat fleksibel, mulai dari 1,4,3,5,10,15 hingga 20 MHz, menjanjikan fleksibilitas yang tinggi dalam penggunaan spektrum.

Bila dilihat dari segi pasar, LTE mampu memperkuat posisi operator telekomunikasi karena meningkatnya nilai ekonomi jaringan secara keseluruhan, cakupan jaringan yang lebih luas, dan kapasitas data yang lebih besar. Operator juga dapat lebih fleksibel mengikuti kebutuhan pasar yang kian cepat berubah sekaligus mampu menawarkan layanan data broadband dalam skala besar. Sedangkan untuk para konsumen yang mencari tarif murah, LTE menjadi jawaban untuk kebutuhan telekomunikasi yang lebih ekonomis.

“LTE bisa menjadi solusi untuk konsumen yang price concern,” ujar Iman Hirawadi, Senior Manager Technical Business Development Wireless Networks ALcatel-Lucent Indonesia.

Layanan 4G berbasis Long Term Evolution (LTE) komersial pertama dan terbesar di dunia diklaim telah diluncurkan oleh TeliaSonera dan Ericsson di Stockholm, Swedia.

Carl-Hendric Svanvberg, Presiden dan CEO Ericsson menyebut ini sebagai peristiwa bersejarah. “Era baru dari pita lebar bergerak baru saja dimulai hari ini. Dengan LTE, yang juga disebut dengan 4G, pengalaman pita lebar bergerak Anda bergerak ke tingkat yang lebih tinggi. Kecepatan LTE memberikan Anda rasa kemudahan dalam mengakses pita lebar,” tuturnya.

LTE merupakan teknologi komunikasi bergerak generasi berikutnya yang didesain untuk memindahkan jumlah data yang sangat besar. Teknologi ini dikatakan sebagai cara yang hemat dan efisien, dengan mengoptimalkan penggunaan pita frekuensi dan mengangkat kecepatan akses seringan serat di udara.

Pengguna pun dapat menikmati layanan apapun secara online dengan lebih mudah. Mulai dari download video berdefinisi tinggi (HD) hingga permainan online berjaring.

Kenneth Karlberg, Presiden dan Kepala Mobility Services TeliaSonera mengatakan, perusahaannya sangat bangga menjadi operator pertama di dunia yang menawarkan layanan 4G kepada pelanggan.

“Terima kasih atas kerja sama yang berhasil dengan Ericsson, kami dapat menawarkan layanan 4G kepada pelanggan kami di Stockholm lebih awal dari rencana semua,” tukasnya.

Alhasil, pusat kota Stockholm sepenuhnya tercakup oleh jaringan LTE, membuat hal ini diklaim menjadi penyebaran LTE terbesar sampai saat ini.

Teknologi mobile broadband generasi selanjutnya diperkirakan akan memiliki 100 juta pelanggan dalam waktu 4 tahun, menurut report dari Pyramid Research. Sebuah study dari Pyramid Research menyatakan bahwa teknologi mobile data selanjutnya akan memiliki rate adopsi yang cepat mengingat adanya full support dari vendor dan operator jalur komunikasi.

Dalam sebuah report yang berjudul “LTE’s Five-Year Global Forecast: Poised To Grow Faster Than 3G” menyatakan bahwa jaringan 4G yang menggunakan teknologi LTE (Long Term Evolution) akan memiliki lebih dari 100 juta pelanggan hanya dalam waktu 4 tahun. Sebagai perbandingan, dari laporan yang sama, disebutkan bahwa untuk jaringan 3G sebelumnya juga mencapai angka tersebut, namun dalam waktu lebih lama yakni enam tahun.

Biaya akan menjadi salah satu factor penting yang mendukung tingginya pertumbuhan pelanggan, menurut report yang sama. Sementara jaringan LTE akan meningkat menjadi miliaran, namun arsitektur IP backbone jaringan LTE hanya membutuhkan beberapa komponen. Jaringan LTE memiliki limit kecepatan 100 Mbps, menurut teorinya, yang dapat memberikan layanan cepat untuk video streaming high-definiton.

Hampir seluruh operator mobile di seluruh dunia telah mengadopsi teknologi LTE untuk jaringan 4G mereka, dan akan dikembangkan lebih lanjut mulai tahun 2010 dan 2011. Sebagai contoh, Verizon Wireless yang telah menggunakan jaringan LTE dan mengujinya di tahun 2009. Sementara Clearwire, Sprint, Google, Intel dan beberapa perusahaan kabel masih mengadopsi teknologi WiMax yang secara teori memiliki kecepatan downlink lebih lambat daripada LTE.

Long Term Evolution (LTE) adalah teknologi radio 4G yang masih dalam tahap pengembangan oleh 3GPP dengan kemampuan pengiriman data mencapai kecepatan 100 Mbit/s secara teoritis untuk downlink  dan 50 Mbit/s untuk uplink. Kecepatan ini dapat dicapai dengan menggunakan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) pada downlink dan Single Carrier Frequency Division Multiplex (SC-FDMA) pada uplink, yang digabungkan dengan penggunaan MIMO. Nantinya seluruh jaringan pada teknologi LTE akan berbasiskan Internet Protocol (IP) atau disebut juga All IP Networks (AIPN).

Teknologi LTE dirancang untuk menyediakan efisiensi spektrum yang lebih baik, peningkatan kapasitas radio, latency dan biaya operasional yang rendah bagi operator serta layanan pita lebar nirkabel bergerak kualitas tinggi untuk pengguna. Perubahan yang terjadi pada LTE dibandingkan standar sebelumnya ada tiga, yaitu air interface, jaringan radio, dan jaringan core. Dengan LTE, pengguna dapat mengunduh dan mengunggah video beresolusi tinggi, mengakses e-mail dengan lampiran besar, serta dapat melakukan video conference setiap saat. Kemampuan LTE lainnya adalah untuk mengoperasikan fitur Multimedia Broadcast Multicast Service (MBMS), yang sebanding dengan DVB-H dan WiMAX. LTE dapat beroperasi pada salah satu spektrum yang termasuk standar IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900, 2100 MHz) ataupun pada spektrum baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

LTE merupakan teknologi pertama yang diratifikasi sebagai teknologi radio ‘Next Generation’ oleh Aliansi NGMN, dimana teknologi ini memenuhi persyaratan Aliansi NGMN berupa latency yang kurang dari 5ms dan pengaturan panggilan 100 ms disamping syarat lain seperti kepadatan panggilan dan kecepatan laju bit maksimum. Dengan bergabungnya LTE dengan varian Frequency Division Duplex (FDD) dan Time Division Duplex (TDD), maka terjadi evolusi dari UMTS, HSPA, dan TD-SCDMA. Jaringan Core yang berasosiasi dengan LTE juga memberikan jalan bagi jaringan CDMA-2000 untuk berintegrasi, sehingga dapat menjadikan LTE evolusi yang sesuai bagi banyak operator. LTE dikomersilkan tahun 2010 di Jepang oleh NTT DoCoMo.

LTE, bersama dengan SAE (service architecture evolution), adalah inti kerja dari 3GPP Release 8. Inti atau core LTE disebut dengan EPC (evolved packet core). EPC bersifat all-IP (semua IP, dan hanya IP), dan mudah berinterkoneksi dengan network IP lainnya, termasuk WiFi, WiMAX, dan XDSL. LTE juga diharapkan mendukung network broadband personal, dengan memadukan layanan mobile dan fix. User tak harus menunggu network yang lebih stabil, misalnya untuk upload file video. LTE harus siap secara teknis (dan ekonomis) untuk menampung trafik yang dinamis dari Web 2.0, cloud computing, hingga beraneka macam gadget. ABI Research memproyeksikan bahwa perangkat seperti kamera, MP3 player, video, dll yang dilengkapi kapabilitas network akan mendekati jumlah setengah miliar unit pada tahun 2012.

LTE KANDIDAT NEXT GENERATION MOBILE NETWORKS (NGMN).
Intinya ITU menghendaki transmisi dengan OFDMA (versi multi-user dari OFDM). Tentu diharapkan semua informasi sudah dialirkan sebagai data paket berbasis IP, dari ujung ke ujung (seharusnya ini terlaksana untuk 3G, tetapi kelihatannya waktu itu belum mungkin). Tiga kandidat itu diajukan oleh Ericsson dan kelompok 3GPP serta kubu GSM-nya yang mengajukan LTE (long-term evolution); Qualcomm dan kelompok 3GPP2 serta kubu CDMA-2000-nya yang mengajukan UMB (ultramobile broadband); serta kelompok WiMAX yang mengajukan WiMAX II (IEEE 802.16m). 802.16m ini pengembangan dari 802.16e yang telah memiliki mobilitas terbatas.

PENERAPAN LTE DI DUNIA
Teknologi LTE kini mulai mendapatkan momentum penting karena telah diadopsi oleh sejumlah negara pada kuartal pertama 2011 ini. Beberapa negara di seluruh dunia, sudah mulai menerapkan jaringan Long Term Evolution (LTE). Indonesia yang penetrasi telekomunikasinya termasuk cepat, memang masih meraba untuk mengadopsi teknologi ini.

Menurut penelitian dari ABI Research, saat ini sudah ada 12 negara memiliki layanan LTE komersial, dan menurut VP ABI Research Jake Saunders akan ada sekitar 16 juta pelanggan menggunakan ponsel LTE. Menurut VP Marketing dan Communication PT Ericsson Indonesia Hardyana Syintawati. Pengadopsian LTE di Indonesia memang sedikit challenging. Dari sisi frekuensi, LTE termasuk teknologi yang cukup unik karena bisa diadopsi di banyak jaringan.

Di seluruh dunia kebanyakan memang LTE berjalan di frekuensi 2.6 karena memang paling besar lebar pitanya.  Namun, Ana juga mengatakan jika frekuensi ini tidak bisa digunakan masih ada opsi di frekuensi 700. Memang di frekuensi 700, tidak selebar di 2.6 namun dengan frekuensi rendah namun mempunyai jangkauan yang lebih luas. Terakhir, jika tidak bisa juga, masih bisa menggunakan frekuensi di 2.3.

Secara bisnis memang kebutuhan pasar LTE sudah mulai dengan frekuensi 2.3. Ericsson, memprediksi pada tahun 2020 mendatang akan ada 50 miliar perangkat telepon yang terhubung internet. Tentu saja akan ada beberapa tahap dan landasan untuk menuju ke arah sana.

Sementara itu, untuk menuju 50 miliar perangkat terhubung dibutuhkan 3 landasan. Dikatakan Anna, ketiga landasan itu adalah, mobility, broadband dan cloud. Mobility maksudnya pengguna bisa mengakses dimana saja, broadband artinya semua orang bisa mengakses, dan cloud memungkin semua perangkat terhubung.

Awal tahun ini, Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Indonesia yang menyatakan mulai mengimplementasikan LTE (long-term evolution). Sebagai kandidat 4G, LTE dianggap paling siap melangkah untuk mengarah ke 4G.

20 operator di dunia, merepresentasikan 1,8 miliar subscriber, telah menyatakan komitmen ke LTE; termasuk NTT Docomo, China Mobile, Vodafone, Verizon, T-Mobile, dan AT&T. NGMN Alliance mengakui LTE sebagai teknologi pertama yang memenuhi kualifikasi NGMN (Next Generation Mobile Networks). Dan akhirnya Qualcomm – yang menjadi pendukung utama UMB – memutuskan ikut mendukung LTE alih-alih meneruskan UMB.

PENGGUNAAN MOBILE APPLICATION YANG DITUNJANG PROVIDER

DALAM PENDIDIKAN

Pertama di Indonesia, Inovasi Aplikasi Mobile Campus Hasil Sinergi Telkomsel dan Research In Motion

 Telkomsel bersama Research In Motion (RIM) meluncurkan aplikasi mobile campus untuk smartphone BlackBerry pertama di Indonesia di sela-sela berlangsungnya Festival Universitas Pelita Harapan (UPH) ke-18. Inovasi aplikasi ini memudahkan mahasiswa UPH untuk mengakses segala informasi mengenai kampusnya serta melakukan aktivitas akademik langsung dari smartphone BlackBerry.
Saat ini institusi pendidikan di Indonesia mulai menyadari pentingnya pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi untuk meningkatkan kualitas aktivitas belajar dan mengajar. Teknologi selular yang menggunakan konsep pembelajaran virtual melalui aplikasi dan akses internet memungkinkan dosen dan mahasiswa saling berinteraksi secara mobile kapan saja dan di mana saja.

Mobile Campus BlackBerry Telkomsel(kiri-kanan) Direktur Niaga Telkomsel Leong Shin Loong, Direktur Senior IT Universitas Pelita Harapan (UPH) Reynier WayongVP Channel Management Telkomsel Gideon Edie PurnomoPresiden Direktur Research In Motion (RIM) Indonesia Andy Cobham, dan VP Sales & Distribution RIM Southeast Asia Hastings Singhmemperkenalkan aplikasi UPH Mobile Campus di smartphone BlackBerry.

Inovasi aplikasi mobile campus ini memudahkan mahasiswa UPH untuk mengakses segala informasi mengenai kampusnya serta melakukan aktivitas akademik langsung dari smartphone BlackBerry.

Sebagai operator selular yang paling dipercaya pengguna BlackBerry di Indonesia dengan lebih dari 2 juta pelanggan, Telkomsel terus berupaya meningkatkan keunggulan kompetitif dengan menyediakan layanan mobile lifestyle yang didukung jangkauan jaringan terluas dan berkualitas terbaik di Indonesia. Kemitraan strategis antara Telkomsel dan RIM kini menghasilkan inovasi bagi universitas terkemuka seperti UPH, baik dalam hal platform maupun layanan.

Mobile Campus BlackBerry Telkomsel: Dua mahasiswi Universitas Pelita Harapan (UPH) sedang mengakses aplikasi UPH Mobile Campus menggunakan BlackBerry di sela-sela berlangsungnya Festival UPH ke-18.

Telkomsel bersama Research In Motion (RIM) meluncurkan aplikasi mobile campus untuk smartphone BlackBerry pertama di Indonesia yang memudahkan mahasiswa UPH untuk mengakses segala informasi mengenai kampusnya serta melakukan aktivitas akademik langsung dari smartphone BlackBerry.

Aplikasi Mobile Campus BlackBerry Telkomsel merupakan aplikasi mobile campus hasil sinergi Telkomsel dan RIM pertama di Indonesia. Aplikasi yang dikustomisasi khusus bagi UPH ini mempermudah mahasiswa dalam mengakses informasi akademik serta melakukan aktivitas akademik kapan pun, di mana pun.

Aplikasi mobile campus ini bisa diunduh di smartphone BlackBerry melalui link http://uph.better-b.mobi. Selanjutnya, mahasiswa UPH bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk melakukan berbagai aktivitas akademik, seperti: pendaftaran mata kuliah (termasuk info status dan biaya mata kuliah), pengunduhan materi akademik, serta mengakses data akademik pribadi atau profil mahasiswa (antara lain: indeks prestasi kumulatif, grafik prestasi, advisor, dan sebagainya).

Melalui aplikasi ini, para orangtua yang ingin mendaftarkan anaknya di UPH juga bisa memperoleh segala informasi mengenai kampus, seperti: fasilitas kampus, peta kampus, pengajar, beasiswa, biaya kuliah, dan kegiatan non akademik. Aplikasi ini juga menyediakan informasi mengenai referensi buku di perpustakaan, kalender kegiatan kampus, lowongan pekerjaan, serta tempat kost mahasiswa.

BlackBerry telah menjadi smartphone yang paling banyak digunakan kawula muda di Indonesia dengan jumlah 5 juta pengguna. Kemiripan karakteristik mahasiswa dengan komunitas pengguna BlackBerry dalam hal kedekatan dengan teknologi, mobile, dinamis, dan terkoneksi secara sosial membuat aplikasi ini dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh mahasiswa.

Advertisements